Semoga; Dalam Hal Penuh Makna

Setiap orang memiliki pandangannya sendiri dalam kehidupannya. Ada yang sama atau berbeda dalam melangkah dan menjalankan kehidupan. Semuanya terkadang berbeda dan tak sama, tetapi tetap dengan tujuan yang dituju. Semuanya memiliki kesamaan dalam mencapai suatu tujuan, tetapi mungkin saja berbeda dalam mewujudkannya. 

Kita sama-sama sedang berlayar. Setiap orang mungkin memiliki pandangannya sendiri dalam kehidupan yang sedang dijalankannya. 

Akan tetapi, kita semua memiliki kesamaan yang sama; yaitu hidup dan menghidupkan suatu harapan dan tujuan. 

Pada hal ini, mungkin kita akan kembali menemukan perbedaan, yaitu perbedaan dalam melangkah dan mewujudkan suatu mimpi yang sudah sangat dirindukan bagi seseorang yang sedang berjuang.

Benar, perjuangan kita tak sama dalam mewujudkan. Akan tetapi, kita semua tetap sama-sama mempunyai suatu mimpi dan tujuan dalam menjalankan kehidupan. 

Ibaratnya, perahu kita tak sama, tetapi kita semua tetap berlayar demi pergi ke pulau yang indah. Kita semua punya ombaknya sendiri-sendiri. Jadi, jangan iri. 

Kita punya landasan tersendiri. Meski bukan seperti pesawat yang memiliki bandara untuk menjadi landasan agar bisa terbang tinggi, ataupun tunas muda yang akan tumbuh tinggi. Kesamaan mahluk hidup lainnya adalah bertumbuh. Nanti, ada saatnya setelah sekian lama menanti dan menemukan jati diri dalam mengusahakan suatu mimpi. 

Dalam proses ini, bukankah banyak sekali cerita-cerita yang sudah kita temui? Sudah banyak sekali hari-hari yang dilalui, meski rasanya tak ringan, tetapi ternyata dapat dilakukan tanpa menghentikan suatu kehidupan. Karena kehidupan tetap berjalan meskipun yang menjalankan sedang menutup mata, berharap hari-hari akan berlalu tanpa berwarna abu-abu. 

Sudah kutemui juga harapan-harapan yang terjatuh dengan lantang, padahal aku menaruhnya dengan tangan sopan. Duduk di hadapannya sambil tersenyum tulus, tetapi balasannya seakan mengajakku untuk tidur terlelap—melupakan suatu hari yang sudah dilakukan dengan ambisi, tetapi tak berguna seakan mengingkari. 

Aku sangat bersedih waktu itu. Aku sedang terhenti dan dunia tetap berjalan laju seperti biasanya. Memperlihatkan orang-orang yang telah bersungguh, sedangkan aku masih berteduh di hamparan paradise yang penuh hipnotis duniawi. 

Mengapa aku tak sama? Mengapa aku berbeda? Aku bertanya dengan rasa yang teramat sedih. Kasian sekali diriku dulu. Padahal, dalam hidup memang selalu ada perbedaan, dan tak selalu dalam lingkaran kesamaan. Kecuali kebersamaan dalam mewujudkan lewat arahan pandangan yang telah ditetapkan dari masing-masing orang yang sama-sama sedang berjuang. 

Itulah suatu kesamaan, yang kemudian akan berproses untuk ke tahap selanjutnya, yaitu bertumbuh meski perlahan. Dalam landasan ini, ibarat seperti perahu yang kita tumpangi, yang akan mengantarkan kita ke pulau tujuan yang dituju. Bukankah itu sama seperti pesawat? Pesawat juga akan tinggi karena ada bandara—tempat berlandas luas yang menjadikannya tinggi. Kita pun memiliki perahu yang kita tumpangi sendiri-sendiri dalam mengantarkan pulau mimpi yang sudah lama sekali dicari dan mencari.

Aku selalu bermimpi dapat berkunjung ke bulan atau tata surya yang sangat indah, yang selalu kutuliskan keindahannya dalam sebuah kiasan cantik yang disebut sajak. Kuakui, keindahannya terasa ketika aku menceritakannya dalam larik-larik bait, dalam imajinasi penuh mimpi—yang tentu saja berada dalam sandiwara penuh warna-warni. 

Ah, indah. 

Rasanya seperti berkunjung pada hamparan yang sepi—yang pernah berkelana dan menerbangkan mimpi-mimpi yang perlahan sudah bertumbuh dalam landasannya sendiri. Sayangnya, itu semua rasanya hanya terus hinggap dalam kelana imajinasi tanpa tahu kapan akan berhenti bersembunyi, dan terus terang bahwa memang benar hadir di sisi asli. Dan, aku dapat merasakannya tanpa henti. 

Kapan, ya? 

Sebagian orang berkata, “jangan khawatir untuk hari esok.” Namun, bagaimana hari esokku, ya? apakah aku akan terus tenggelam dalam sajak yang kubuat, tanpa bisa bertemu dengan objeknya yang dibuat secara tidak langsung? 

Jadi, setelah beberapa hari aku terhenti karena kesedihan yang melanda, aku kembali merasakan keindahan dari sajak yang kutulis. Benar, kesedihan bisa melahirkan suatu karya. Dalam kedaan bersedih, keindahan yang samar itu datang. Seolah menghiburku untuk bangun dan berjalan menyusuri pulau-pulau yang belum pernah didatangi. 

Benar, kita semua punya tempat berlandasnya sendiri, kita semua tak sama, kita bisa berbeda. Perahu kita tak sama, tetapi kita tetap berlayar untuk menuju pulau yang menjadi tempat tujuan. 

Sayang seribu sayang, aku menyayangi waktuku yang terbuang sia-sia karena kesedihan dari proses pertumbuhan. Jadi, tak apalah, bukankah kesedihan itu bagian dari proses juga? Sudah, karena ada saatnya kesedihan datang, dan di waktu inilah kita semua sedang dijuji dari proses yang sedang dijalankan. 

Aku memang tak bisa bertemu dengan benda-benda yang ada di hamparan langit luas. Akan tetapi, mungkin landasanku adalah hamparan langit luas itu yang bersamaan mengajakku berkelana dan merasakan keindahan dari larik-larik nyata yang ada. 

Luas, tanpa batas. Hamparannya dan mimpi kita semua. 


Kita tak sama, landasan kita mungkin berbeda. Tempat bertumbuh kita tak sama, tetapi kita sama-sama mempunyai landasan, seperti perahu yang sedang kita tumpangi dan sedang berlayar mengantarkan kita semua ke pulau mimpi. 


Semoga, suatu saat nanti, ada saatnya kita semua sampai di pulau mimpi. Merasakan balasan tanpa ingkar, mengurai kesedihan-kesedihan dengan kebahagiaan. 

Nanti, ada saatnya. 

Dalam masa depan, lewat pertumbuhan kehidupan yang sedang dijalankan. 

Semoga saja. 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

bagus yang ternama itu seperti apa?

maret 2025 dan porak-porandanya