BERLABUH
Saat itu, pertama kali aku berlabuh pada dunia ini. Tangisan seorang bayi, yang sudah dinanti-nanti oleh seorang orang tua. Aku, kamu, dan kita, sama-sama sudah dinanti-nanti kehadirannya. Aku, kamu, dan kita, sama-sama melewati proses yang sama dengan cara yang berbeda untuk berlabuh pada dunia ini.
Waktu itu, kita menjadi bayi. Ya, bernama bayi. Manusia kecil yang hanya bisa menangis dan belum tahu apa-apa. Belum ada beban, dan pikiran yang terlalu memberatkan. Seenak itu ternyata dulu. Sekarang, bayi itu sudah besar. Rasanya sudah tak cocok untuk disebut bayi lagi.
Remaja. Dewasa. Itulah panggilan barunya sekarang. Sekarang, dirinya sudah mempunyai mimpi. Sudah kenal segalanya dibanding berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat masih mengompol di kasur, dan selalu dibilang pintar oleh Ibu dulu. Selalu menangis dan menjengkelkan, tetapi balasan hangat berupa pelukan dari Ibu mampu membuat semuanya baik-baik saja. Termasuk manusia kecil yang bernama bayi itu.
Bu, bisakah aku menjadi anak kecil yang selalu kau dekap sewaktu berpuluh-puluhan tahun itu? Hal yang selalu kita renungkan dan berharap semuanya bisa terjadi lagi.
Komentar
Posting Komentar