Aku Ingin Jadi Egois

“Beberapa luka memang  belum terlalu usai, tetapi kehidupan juga takkan pernah selesai.”


Surya sudah menepi dan hendak berganti purnama. Tapi masalahku tetap sama saat mentari hendak menyinari bumi. Di sini, di samping genteng rumah, tempat menjemur beberapa pakaian, ada senja sepenuh keindahan. Langit sudah hampir gelap, tapi masih ada penerangan dari keindahan mentari. Orang menyebut dengan senja. 

Lihatlah, indah sekali. Hanya mata kepala buatan Sang Pencipta saja yang dapat menjadi saksi keindahan alam semesta dan segala isinya. Buatan manusia, mungkin mampu menjadikan saksi juga, tetapi kurang memaknai hati, tentang apa yang sebenarnya terjadi. 

Untuk hari yang datang, bisakah aku menjadi egois saat mentari mulai datang menyinari? Bolehkah aku egois sehari saja sampai purnama akan datang? Bahkan, rasanya itu bukan sehari, hanya beberapa jam. Aku ingin egois. Ada rasa sakit yang belum mereda, ada bekas kesakitan yang masih sama. Dan aku, ingin egois sesaat saja. 

Namun, bagaimana jika itu hari terakhir di mana aku berlayar? Bagaimana bila kapalku jatuh, dan aku ikut terjatuh di dalamnya—di tengah-tengah lautan? Bagaimana bila ada badai atau ombak yang menyerangku, lalu aku tidak sempat bersembunyi, tapi malah terombang-ambing, dan jatuh ke dalam lautan? 

Bukankah itu hal yang buruk? Bukankah itu sangat menyedihkan? Aku masih ingin berkunjung ke pulau-pulau indah, menikmati surya yang akan tenggelam, bertamasya kapan saja. Tapi, lihatlah, aku juga ingin egois karena perahuku paling lambat daripada perahu yang orang lain tumpangi. Aku lambat, dan aku ingin egois.

Di sini, aku masih menikmati kebesaran Sang Pencipta alam, melihat matahari yang akan tenggelam di ujung ufuk, melihat burung yang menari-nari dengan seksama, mengarang-ngarang cerita kehidupan esok yang bahkan belum pasti.

Aku ingin egois, tetapi itu sangat menyedihkan bila menjadi hari terakhir pelayaranku. Ada kesakitan yang belum mereda, tapi ada juga beberapa pulau yang belum kusempat kunjungi dan kuabadikan. Ada juga cerita kehidupan yang masih penuh misteri dan tak abadi, karena semua akan kembali.

Beberapa luka memang belum terlalu usai, tetapi kehidupan juga takkan pernah selesai.

Hidup bahkan bukan hanya untuk sekedar ingin, karena akan ada balasan di setiap hal yang terlewati dan terjadi. 




——————19 Mei 2K23, faerzaaa 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semoga; Dalam Hal Penuh Makna

bagus yang ternama itu seperti apa?

maret 2025 dan porak-porandanya