Postingan

maret 2025 dan porak-porandanya

tulisan ini menjadi refleksi pada 18 maret yang lalu sebetulnya.  menghadapi awal maret 2025, dengan prasangka baik dan riang yang kemudian tiba-tiba menghempaskan udaranya sendiri. diam-diam dengan kesedihan yang tak bisa terucap. beberapa harapan dan doa rasanya melayang karena terlewat. ataukah memang bukan jalannya sehingga pada bagiannya, dilewati dan dilepas selepaa-lepasnya begitu saja. lalu dalam beberapa detik setelahnya, seluruh badan masuk ke dalam rendaman air mata yang sudah penuh sampai dari atas daratan tak nampak ada yang sedang berenang. di dalam sana, tentu terasa sangat sesak. menyesakkan. apalagi memang hanya berdiam diri. bingung. ia mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. tiba-tiba harapan itu lenyap. semuanya sudah terjadi. tak bisa diulang.  berulang kali telinganya berdenging kalimat, “seharusnya waktu itu...”  lenyap. tanpa tanda-tanda.  seolah harapannya akan menjadi nyata, nyala api idealisme miliknya tak padam walau tersenggol ketidakm...

ah,

terkadang, dunia menitah lebih keras untuk pergi ke manapun pintu yang tersedia. ke mana saja langkah itu mengarah. tapi, diam-diam pintu itu memang sudah tertutup rapat sedari awal jadi, apakah kita perlu membobolnya? lalu memaksa masuk ke dalamnya, entah yang di dalam baik atau buruk itu?  bagaimanapun, jikalau setelah membobol pintu itu di dalamnya tak ada apa-apa bagaimana? kosong melompong. sia-sia saja tenaga yang ada untuk membobolnya.  sekeras apapun dan sekuat apapun untuk mendobrak, yang dibekali dengan idealisme, tetapi tanpa kesungguhan karena ia pun masih merasa ragu, apakah akan berakhir baik jika pintu itu berhasil dibuka?  misalnya persetujuan untuk melangkah jauh? ah, lagi pula buat apa persetujuan itu? betul, pantas saja pintu itu terkunci. aneh. padahal keagungan itu harus dinikmati. berkelana. membentang luas. terbang tanpa batas. merasakan angin malam yang menusuk dengan lepas. semuanya tampak bebas.  ah, betapa jelitanya. sayang, itu masih tertu...

semua yang berlalu akan hinggap selalu

beberapa yang jatuh dan sirna pada masa-masa yang lalu—akan selalu ada; dalam setiap lembaran bagi siapa saja yang mengabadikan. perjalanan yang pernah patah, rusak-meretak, apapun yang saling bertabrakan; menjadi kekal; saling mengampu dengan jutaan hari baru yang menunggu; kecuali jika tinta hitam mengering dan menghilang dimakan masa dan konon katanya tinggal kenangan.  lalu, masa-masa dahulu kemudian menghampiri tatkala jemarimu menyentuh halus tekstur kertas. seolah akal dan tangan saling berkirim sinyal, periode yang berbeda melambaikan tangan. berkabar lewat tulisan; lewat prakata yang selalu disematkan; lewat gelas yang sengaja menumpahkan perasaan. selayaknya dedaunan runtuh, seluruh organ yang menjadi saksi kembali berdesau. bersorak secawan. senyap. entah mau merespon bagaimana. tatkala mereka berseteru, mungkinkah semua hanya angin lalu? mengingat ini semua hanya laju-laju dimensi penuh cuai.  ... sebab bukan ribuan kata yang ada di dalamnya, melainkan ribuan memor...

dilingkari individu berbudi luhur adalah karunia besar

hinggap petang hari, jiwa disinggahi pertanggungjawaban; menyongsong jiwa lain setelah seharian menuntut ilmu. mengenakan biang keladi melintasi jalan raya kecil; menyelinap di antara kuda besi yang memenuhi gang tikus seukuran satu arah. habis oleh arahnya sendiri. dengan kecepatan metode pembalap dunia, gas dilajukan. yap, berhasil menjadi yang pertama dengan lorong bolong-bolong. alhasil wajah jadi retak, lalu seluruh indra bergoyang, larutan darah berpencar dan berguncang. satu kilo lagi, gerbang terlihat, tetapi penunggu belum tampak.  unuk memastikan, gadget diambil, berselancar; mengabari lokasi terkini. tak lama muncul individu yang dituju. biang keladi kembali melaju, menyusuri lorong awal mula. setelah itu, baru tersadar; gadget menghilang!  kekhawatiran memuncak—mengingat umurnya belum genap dua tahun. selayaknya anak mungil berusia sama, tentu rasanya seperti menelantarkan jiwanya. takal merana; pikiran menyempit. wira-wiri sana-sini; lupa-lupa ingat. huft... napas...

bagus yang ternama itu seperti apa?

pada kondisi-kondisi yang dirasa krusial, ditaruh pula beberapa harapan supaya langkah tak terlalu banyak tipu daya, umpama suatu masa berlalu begitu saja. banyaknya pengharapan, ditimpa-tindih oleh para pejalan pemilik langkah. supaya arah mereka tak terlalu melesat tanpa keberartian. bukan pula payah jika pengharapan mereka patah. apalagi parah. mengatasnamakan takdir dengan keburukan adalah hal yang harus dihindarkan.  musababNya, mungkin suatu masa jadi lebih bersahabat tatkala dirinya seorang diri. kesadaran memang berada dinomor kesekian, mirip orang yang sedang kasmaran. hih.  pada dasarnya, semua menyayangi pengharapan ini. maka itu, tak ingin suatu masa berlalu cepat-cepat. takut kalau pengharapan itu patah. payah. lebih besar takutnya dibanding dengan menjalani hari-hari dengan keadaan krusial. sebuah perbandingan yang sangat amat jauh bedanya. layaknya esok bertanya, "masuk tanggal berapa??" saat pembagian rapor diumumkan. kesekian perjumpaan, perlawanan pada keada...

Semoga; Dalam Hal Penuh Makna

Setiap orang memiliki pandangannya sendiri dalam kehidupannya. Ada yang sama atau berbeda dalam melangkah dan menjalankan kehidupan. Semuanya terkadang berbeda dan tak sama, tetapi tetap dengan tujuan yang dituju. Semuanya memiliki kesamaan dalam mencapai suatu tujuan, tetapi mungkin saja berbeda dalam mewujudkannya.  Kita sama-sama sedang berlayar. Setiap orang mungkin memiliki pandangannya sendiri dalam kehidupan yang sedang dijalankannya.  Akan tetapi, kita semua memiliki kesamaan yang sama; yaitu hidup dan menghidupkan suatu harapan dan tujuan.  Pada hal ini, mungkin kita akan kembali menemukan perbedaan, yaitu perbedaan dalam melangkah dan mewujudkan suatu mimpi yang sudah sangat dirindukan bagi seseorang yang sedang berjuang. Benar, perjuangan kita tak sama dalam mewujudkan. Akan tetapi, kita semua tetap sama-sama mempunyai suatu mimpi dan tujuan dalam menjalankan kehidupan.  Ibaratnya, perahu kita tak sama, tetapi kita semua tetap berlayar demi pergi ke pulau ...

Everything Has Its Time

 Hidup Penuh Sambat "Sambat terus, apa, sih, yang di-sambat-in?"  Nggak setiap hari kita merasakan hari dengan penuh gemuruh. Nggak setiap hari kita terjatuh. Kadang, di balik semuanya tersimpan hikmah dan anugerah; yang menjadikan hidup lebih berkah. Dari aku yang kadang masih penuh keluh, dan berusaha untuk utuh; di balik hati yang rapuh. Bohong kalau nggak berusaha untuk utuh, bohong jika aku terus menerus bertahan merasakan rapuh. Pada akhirnya, semua akan ada saatnya. Walau berusahanya mati-matian, tapi seenggaknya ada jaminan. Apapun itu, aku harap, bisa menjadikan diriku lebih baik. Lebih kuat, lebih ikhlas, dan lebih sabar.  Hidup adalah sebuah perjuangan. Seperti seorang pahlawan yang berjuang mengusir para penjajah, seperti seorang Ayah yang berjuang untuk menghidupi keluarganya, seperti seorang Ibu yang berjuang melahirkan anaknya, dan seperti manusia yang telah ada karena cinta dari kedua orang tua; dan akan berjuang dalam hidupnya masing-masing.  Kita. K...